Jangan serius mulu kaya si black.
Hmm, harus dari mana aku memulai?
Mungkin post blog kali ini, isinya akan lebih fleksibel karena tidak terbatas pada satu konteks, akan banyak sekali hal-hal yang ingin sekali aku diskusikan sebenarnya. Tapi ntah pada siapa, jadi biarkan aku melerainya satu persatu agar lebih rinci. Berikut hal-hal yang cukup membuat aku resahhhh.
Dulu, yang aku tau cuma dunia nyata saja. Dunia yang isinya cuma aku, adik, ibu, ayah, teman satu komplek, teman satu sekolah, sanak saudara, dan tetangga sekitar. Hidupku bisa dibilang cukup indah karena setiap harinya, aku berhubungan dengan semua hal yang aku sayang. Setiap harinya, kegiatanku diisi dengan hal-hal yang bermanfaat; bangun tidur, sarapan, berangkat sekolah, sore harinya mengaji, malamnya mengerjakan tugas, lalu tidur kembali.
Lalu beranjak sedikit remaja, aku dikenalkan dengan beberapa teknologi yang diberikan oleh Orang Tuaku, sebuah handphone layar kuning yang fungsinya masih hanya sekedar berkirim pesan singkat dan permainan ular-ularan yang digunakan ketika sudah waktunya pulang sekolah, aku mengirim pesan "ma, aku sudah pulang" lalu ibuku datang menjemputku dengan motor bebeknya.
Ketika masuk sekolah menengah, teman-temanku mulai berani memamerkan teknologi layar sentuh yang tidak hanya bisa mengirim pesan, tapi bisa untuk membuka laman Facebook, berkirim pesan melalui BBM, dan berfoto imut melalui aplikasi B612 atau Retrika. Pada zamannya, hal yang seperti ini sudah keren luar biasa, kamu jadi anak paling populer satu sekolah kalau sudah menggabungkan semua aplikasi itu dalam satu handphone bernama smartphone.
Memasuki masa rok abu-abu, aku mulai sedikit demi sedikit merasa malu ketika temanku berhasil menemukan laman Facebookku yang isinya foto-foto idola boyband dan fotoku saat sedang merasa cantik-cantiknya. Rasanya saat itu juga ingin memblokir facebookku dan bilang "ini, aku yang baru". Munculah beberapa aplikasi pengganti pesan singkat, aplikasi edit foto paling baru, aplikasi saling cuit, aplikasi yang bisa kirim stiker-stiker lucu, dan aplikasi-aplikasi lain yang cukup membuat kuotaku cepat habis.
Aku senang ketika beberapa orang menginvite pin BBM-ku, memfollow akun twitter dan instagramku, menandakan mereka ingin berteman denganku, aku merasa seperti dibutuhkan semua orang. Siapa yang tidak senang, jika kamu dibutuhkan orang banyak? Kamu auto populer!
Tapi awalnya, aku pikir dengan munculnya semua aplikasi pendukung kehidupan itu, akan membuat duniaku jadi lebih keren, lebih asyik.
Tapi engga men.
Gak selalu kaya gitu.
Memasuki dunia perkuliahan, semakin kamu merasa ada banyak hal yang salah didunia ini. Kenapa orang dengan gampangnya menghujat satu sama lain, kenapa orang di dunia maya, dengan dunia nyata begitu berbeda, begitu munafik. Kenapa bisa orang pintar, orang baik, lebih memilih diam, bungkam melihat keadaan yang ada, padahal dunia ini sudah ditahap krisis!
Aku bingung.
Mahasiswa, ditanya keberadaannya,
"Mahasiswa kemana sih? Keadaan negri ini sudah kacau! Kemana Mahasiswa? Sibuk Belajarkah?"
Memang!
Kami gak mau munafik, Masuk perguruan tinggi negri itu, susah. Kami belajar mati-matian untuk bisa sampai dititik ini. Gak sampai disitu, kami tau kuliah itu tidak murah, orang tua kami berjuang mati-matian juga agar kami bisa terus belajar sampai ke negri Cina. Maka dari itu, kami tidak mau mengecewakan apa yang sudah orang tua kami usahakan.
Tapi, kami juga gak buta sama keadaan negri ini. Banyak aktivis-aktivis kampus yang melek terhadap apa yang terjadi, Kami, mencoba untuk terjun langsung ke masyarakat, membantu apa yang kami bisa, mendengarkan apa yang sebenarnya masyarakat inginkan. Kami melakukan penelitian, membuat sebuah teknologi baru, belajar langsung dari masyarakat demi tau apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Jadi, jangan anggap kami hilang. Kami ada, Anda yang tidak melihat ke semua arah.
Kembali. Semakin kesini, semakin kamu merasa banyak yang salah. Para petinggi, berlomba menjatuhkan satu sama lain. Menganggap dirinya pantas mengatasi persoalan yang ada. Menyalahkan semua pihak, padahal hal pertama yang harusnya disalahkan adalah diri sendiri. Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat. Manusia saling hujat, di dunia maya. Di dunia nyata? mereka diam. Munafik semuanya.
Bukan apa, kembali ke awal, aku hanya ingin menjabarkan hal-hal yang membuatku resah. Tidak ada pihak yang aku sudutkan, tidak ada maksud menjelekkan orang-orang tertentu. Aku hanya ingin kalian yang membaca ini, berpikir, betapa bodohnya kita, membiarkan negri ini berada dijalan yang salah.
Tengs men udah baca. Gausah dibawa baperlah, yang penting mikir aja. Serius mulu ah kaya black,
Sirius Black.
Salam rindu,
Dhahiras.
2018.
Mungkin post blog kali ini, isinya akan lebih fleksibel karena tidak terbatas pada satu konteks, akan banyak sekali hal-hal yang ingin sekali aku diskusikan sebenarnya. Tapi ntah pada siapa, jadi biarkan aku melerainya satu persatu agar lebih rinci. Berikut hal-hal yang cukup membuat aku resahhhh.
Dulu, yang aku tau cuma dunia nyata saja. Dunia yang isinya cuma aku, adik, ibu, ayah, teman satu komplek, teman satu sekolah, sanak saudara, dan tetangga sekitar. Hidupku bisa dibilang cukup indah karena setiap harinya, aku berhubungan dengan semua hal yang aku sayang. Setiap harinya, kegiatanku diisi dengan hal-hal yang bermanfaat; bangun tidur, sarapan, berangkat sekolah, sore harinya mengaji, malamnya mengerjakan tugas, lalu tidur kembali.
Lalu beranjak sedikit remaja, aku dikenalkan dengan beberapa teknologi yang diberikan oleh Orang Tuaku, sebuah handphone layar kuning yang fungsinya masih hanya sekedar berkirim pesan singkat dan permainan ular-ularan yang digunakan ketika sudah waktunya pulang sekolah, aku mengirim pesan "ma, aku sudah pulang" lalu ibuku datang menjemputku dengan motor bebeknya.
Ketika masuk sekolah menengah, teman-temanku mulai berani memamerkan teknologi layar sentuh yang tidak hanya bisa mengirim pesan, tapi bisa untuk membuka laman Facebook, berkirim pesan melalui BBM, dan berfoto imut melalui aplikasi B612 atau Retrika. Pada zamannya, hal yang seperti ini sudah keren luar biasa, kamu jadi anak paling populer satu sekolah kalau sudah menggabungkan semua aplikasi itu dalam satu handphone bernama smartphone.
Memasuki masa rok abu-abu, aku mulai sedikit demi sedikit merasa malu ketika temanku berhasil menemukan laman Facebookku yang isinya foto-foto idola boyband dan fotoku saat sedang merasa cantik-cantiknya. Rasanya saat itu juga ingin memblokir facebookku dan bilang "ini, aku yang baru". Munculah beberapa aplikasi pengganti pesan singkat, aplikasi edit foto paling baru, aplikasi saling cuit, aplikasi yang bisa kirim stiker-stiker lucu, dan aplikasi-aplikasi lain yang cukup membuat kuotaku cepat habis.
Aku senang ketika beberapa orang menginvite pin BBM-ku, memfollow akun twitter dan instagramku, menandakan mereka ingin berteman denganku, aku merasa seperti dibutuhkan semua orang. Siapa yang tidak senang, jika kamu dibutuhkan orang banyak? Kamu auto populer!
Tapi awalnya, aku pikir dengan munculnya semua aplikasi pendukung kehidupan itu, akan membuat duniaku jadi lebih keren, lebih asyik.
Tapi engga men.
Gak selalu kaya gitu.
Memasuki dunia perkuliahan, semakin kamu merasa ada banyak hal yang salah didunia ini. Kenapa orang dengan gampangnya menghujat satu sama lain, kenapa orang di dunia maya, dengan dunia nyata begitu berbeda, begitu munafik. Kenapa bisa orang pintar, orang baik, lebih memilih diam, bungkam melihat keadaan yang ada, padahal dunia ini sudah ditahap krisis!
Aku bingung.
Mahasiswa, ditanya keberadaannya,
"Mahasiswa kemana sih? Keadaan negri ini sudah kacau! Kemana Mahasiswa? Sibuk Belajarkah?"
Memang!
Kami gak mau munafik, Masuk perguruan tinggi negri itu, susah. Kami belajar mati-matian untuk bisa sampai dititik ini. Gak sampai disitu, kami tau kuliah itu tidak murah, orang tua kami berjuang mati-matian juga agar kami bisa terus belajar sampai ke negri Cina. Maka dari itu, kami tidak mau mengecewakan apa yang sudah orang tua kami usahakan.
Tapi, kami juga gak buta sama keadaan negri ini. Banyak aktivis-aktivis kampus yang melek terhadap apa yang terjadi, Kami, mencoba untuk terjun langsung ke masyarakat, membantu apa yang kami bisa, mendengarkan apa yang sebenarnya masyarakat inginkan. Kami melakukan penelitian, membuat sebuah teknologi baru, belajar langsung dari masyarakat demi tau apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Jadi, jangan anggap kami hilang. Kami ada, Anda yang tidak melihat ke semua arah.
Kembali. Semakin kesini, semakin kamu merasa banyak yang salah. Para petinggi, berlomba menjatuhkan satu sama lain. Menganggap dirinya pantas mengatasi persoalan yang ada. Menyalahkan semua pihak, padahal hal pertama yang harusnya disalahkan adalah diri sendiri. Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat. Manusia saling hujat, di dunia maya. Di dunia nyata? mereka diam. Munafik semuanya.
Bukan apa, kembali ke awal, aku hanya ingin menjabarkan hal-hal yang membuatku resah. Tidak ada pihak yang aku sudutkan, tidak ada maksud menjelekkan orang-orang tertentu. Aku hanya ingin kalian yang membaca ini, berpikir, betapa bodohnya kita, membiarkan negri ini berada dijalan yang salah.
Tengs men udah baca. Gausah dibawa baperlah, yang penting mikir aja. Serius mulu ah kaya black,
Sirius Black.
Salam rindu,
Dhahiras.
2018.
Comments